Diminished Ovarian Reserve

Infertilitas masih merupakan masalah kesehatan di dunia termasuk di Indonesia. World Health Organization (WHO) secara global memperkirakan adanya kasus infertil pada 8% - 10% pasangan, jika dari gambaran global populasi maka sekitar 50 – 80 juta pasangan (1 dari 7 pasangan) atau sekitar 2 juta pasangan infertil baru setiap tahun dan jumlah ini terus meningkat (Triwani, 2013). Infertilitas dapat disebabkan oleh pihak wanita, pria, maupun keduanya akan tetapi dari jumlah pasangan infertil yang ada, sebagian besar penyebabnya berasal dari faktor wanita. Penelitian yang dilakukan oleh Oktarina et al., (2014) menyebutkan bahwa kondisi yang menyebabkan infertilitas dari faktor wanita sebesar 65%, faktor pria 20%, kondisi lain-lain dan tidak diketahui 15%.

Penelitian yang dilakukan oleh Karsiyah (2014) bahwa terdapat hubungan antara kondisi reproduksi dengan infertilitas khususnya wanita. Penelitiannya menyebutkan bahwa tidak hanya usia yang mempengaruhi infertilitas wanita, melainkan juga kondisi reproduksinya. Utami (2012) menyatakan bahwa distribusi kelainan pada pihak wanita yang paling banyak ditemukan adalah kelainan pada ovarium, yang diikuti oleh faktor tuba dan uterus. Salah satu penyebab infertilitas pada wanita antara lain rendahnya cadangan ovarium atau biasa disebut dengan Diminished Ovarian Reserve (DOR).

DOR : Arti untuk Pasien dan Prognosis untuk Fertilitas

Apa arti cadangan ovarium rendah untuk kesuburan? Wanita dengan DOR yang tidak diobati mengalami kesulitan hamil. Selain itu, ketika mereka hamil, mereka mengalami resiko tingkat keguguran tinggi dari setiap diagnosis infertilitas. Ini karena sekitar 95%  kualitas embrio berasal dari telur. Embrio dengan kualitas buruk lebih kecil kemungkinannya untuk berkembang dan ditanam di dalam rahim, dan lebih cenderung menyebabkan keguguran bahkan ketika implantasi.

Apa Arti Cadangan Telur Rendah Untuk Wanita Di Bawah 40?

Cadangan ovarium yang berkurang adalah konsekuensi alami dari penuaan, seiring bertambahnya usia wanita. Wanita yang mencoba kehamilan setelah usia 40 sering mengalami kesulitan hamil karena alasan ini. Namun, DOR bukan suatu kondisi eksklusif untuk wanita di atas 40. Ini dapat mempengaruhi wanita yang lebih muda juga.

Sekitar 10% wanita memulai penurunan fungsi ovarium yang biasanya berkaitan dengan usia ini jauh lebih awal dalam kehidupan. Ketika cadangan ovarium mereka dievaluasi, ditemukan lebih rendah dari yang diperkirakan untuk usia mereka. Wanita-wanita ini dianggap menderita penuaan ovarium dini (Premature Ovarian Aging / POA).

Penyebab Buruknya Cadangan Ovarium

Ketika awalnya didiagnosis dengan cadangan ovarium yang buruk, banyak pasien bertanya, "Apa yang menyebabkan cadangan ovarium yang rendah?" DOR mungkin merupakan bagian dari proses penuaan alami pada wanita lain, terutama mereka yang mengalami POA. Selain memiliki etiologi autoimun, komponen genetik ketika DOR berkembang prematur juga menjadi kecurigaan.

Treatment DOR Saat Ini

Banyak wanita yang memiliki diagnosis DOR dengan FSH (Follicle Stimulating Hormone) tinggi dan / atau AMH (Anti-Mullerian Hormone) rendah diberitahu oleh ahli endokrin reproduktif mereka bahwa menggunakan sel telur dari donor adalah satu-satunya pilihan mereka untuk kehamilan.

Fertilisasi In Vitro (In Vitro Fertilization/IVF)

Bagi sebagian besar wanita yang ingin hamil dengan telur mereka sendiri setelah didiagnosis dengan DOR, IVF dengan stimulasi ovarium adalah pilihan perawatan tercepat dan paling dapat diandalkan. Wanita dengan DOR biasanya dilengkapi dengan dehydroepiandrosterone (DHEA) untuk menyesuaikan lingkungan ovarium mereka ke lingkungan ovarium yang lebih muda, kaya androgen, sehingga memungkinkan sel telur menjalani proses pematangan yang lebih sehat dan menghasilkan peluang kehamilan yang lebih baik.

Supplementasi DHEA

Selama hampir satu dekade, salah satu pusat penelitian dan pengobatan reproduksi manusia telah melakukan perawatan wanita penderita DOR dengan androgen DHEA ringan. Manfaat utama DHEA untuk kesuburan termasuk peningkatan kualitas dan kuantitas telur dan embrio, peningkatan tingkat kehamilan spontan, peningkatan tingkat keberhasilan IVF, penurunan tingkat keguguran, dan penurunan risiko kelainan kromosom pada embrio.

Apakah DOR dapat ditreatment dengan Stem Cell?

Stem cell atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai sel punca merupakan sel yang belum berdiferensiasi dan mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk berkembang menjadi banyak jenis sel yang berbeda di dalam tubuh. Sel punca  juga berfungsi sebagai sistem perbaikan untuk mengganti sel-sel tubuh yang telah rusak demi kelangsungan hidup organisme. Oleh karena itu, banyak peneliti di luar negeri maupun Indonesia berlomba-lomba meneliti untuk menjadikan sel punca sebagai obat penyakit degeneratif di masa depan. Dari situs clinicaltrials.gov belum ada data terkait uji klinis DOR menggunakan stem cells.

Temuan terbaru saat ini dari tinjauan artikel oleh Herrais et al., (2019) bahwa ada laporan kehamilan spontan yang dicapai setelah transplantasi sumsum tulang pada wanita onkologis dengan insufisiensi ovarium primer. Semakin banyak bukti yang mendukung efek regeneratif dari terapi berbasis sel punca di ceruk ovarium. Sel-sel induk dewasa dari beberapa sumber mendorong perkembangan folikel, meningkatkan vaskularisasi lokal ovarium, meningkatkan proliferasi sel folikel dan stroma serta mengurangi apoptosis sel dan atresia folikel, walaupun mereka tidak mengubah kualitas embrio. Oleh karena itu, sisa folikel diam ovarium yang tua atau rusak dapat menghasilkan sel telur yang kompeten dalam lingkungan ovarium yang memadai. Namun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi mekanisme yang mendasarinya, mengidentifikasi sumber sel terbaik dan merancang teknik infus yang kurang invasif.

 

Referensi :

 

Herraiz S, Pellicer N, Romeu M, Pellicer A (2019). Treatment Potential of Bone Marrow – Derived Stem Cells in Women with Diminished Ovarian Reserves and Premature Ovarian Failure. Curr Opin Obstet Gynecol. Jun;31(3):156-162.

Indarwati I, Hastuti U, Dewi Y (2017). Analysis of Factors Influencing Female Fertility. Journal of Maternal and Child Health 2(2) : 150 -161.

Karsiyah (2014). Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Infertilitas di Wilayah Kecamatan Way Seputih Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2014. Jurnal Kebidanan Adila Bandar Lampung.

Oktarina A, Abadi A, Bachsin R (2014). Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Infertilitas Pada Wanita Di Klinik Fertilitas Endokrinologi Reproduksi. Palembang: Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.

The Stem Cells – Stem cell information – The Official National Institute of Health Resource for Stem cell Research.

Triwani. (2013). Faktor Genetik Sebagai Salah Satu Penyebab Infertilitas Pria. Palembang: Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.

Utami T (2012). Faktor Penyebab Infertilitas Primer di Klinik Infertilitas Permata Hati RSUP dr. Sardjito Periode 1 September 2011 – 31 Desember 2011. Yogyakarta: Medical Faculty Universitas Islam Indonesia.

www.centerforhumanrepro.com diakses pada Senin, 20 Mei 2019 09:23 WIB.