Gangguan Spektrum Autisme (ASD)

Autisme dan gangguan spektrum autisme/autism spectrum disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf yang kompleks dimana terjadi gangguan progresif perkembangan otak dan koneksi sinaps, yang mencakup hampir semua proses kehidupan baik sebelum dan sesudah kelahiran1. ASD dimulai pada tahap embrionik pertama dengan gangguan proliferasi dan diferensiasi sel, yang mengarah ke serangkaian peristiwa berurutan seperti migrasi saraf, disorganisasi laminasi, perubahan pematangan neuron, perkembangan neurit, masalah sinaptogenesis, dan penurunan fungsi jaringan saraf.

ASD memengaruhi lebih dari 1% populasi umum2 dan ditandai oleh dua gejala utama, yaitu gangguan komunikasi social; dan perilaku atau aktivitas berulang yang berulang. Namun, masalah terbesar dalam autisme dipicu oleh gejala yang terkait seperti lekas marah, kecemasan, agresi, kompulsi, mood lability, masalah pencernaan, depresi, dan gangguan tidur3.

Terapi ASD terdiri dari terapi konvensional, seperti pelatihan keterampilan sosial, terapi perilaku intensif awal, analisis perilaku terapan, terapi wicara, terapi okupasi, bersama-sama dengan obat-obatan psikotropika, stimulasi magnetik transkranial, dan perawatan alternatif, yang meliputi perawatan oksigen hiperbarik, terapi musik, dan terapi perilaku kognitif dan sosial4. Pengembangan metode terapi baru mungkin dapat dijadikan sebagai intervensi utama untuk perbaikan gejala yang berkelanjutan pada ASD. Di antara terapi baru yang tersedia, ada terapi gen dan terapi sel induk, yang memiliki potensi besar untuk mengobati ASD5.

Penyakit neurologis biasanya tidak dapat diperbaiki karena terbatas dan lambatnya neurogenesis di otak. Oleh karena itu, berdasarkan pada kapasitas regeneratif sel punca (stem cell), terapi transplantasi berbagai sel punca (stem cell) telah diuji dalam penelitian dasar dengan menggunakan model hewan baik pada uji praklinis dan klinis. Banyak pula yang telah menunjukkan harapan besar dan efek terapeutik6. Studi komparatif telah dilakukan untuk memahami sifat dan jumlah sel induk donor, model transplantasi, dan pemilihan populasi pasien yang tepat yang dapat menghasilkan manfaat dari terapi berbasis sel pada penyakit autisme.


1. Courchesne E, Pramparo T, Gazestani VH, Lombardo MV, Pierce K, Lewis NE. The ASD living biology: from cell proliferation to clinical phenotype. Mol Psychiatry. 2018June:22.

2. Baio J, Wiggins L, Christensen DL, et al. Prevalence of autism spectrum disorder among children aged 8 years – autism and developmental disabilities monitoring network, 11 sites, united states, 2014. MMWR. Surveill Summ. 2018;67(6):1–23.

3. Elsabbagh M, Divan G, Koh YJ, et al. Global prevalence of autism and other pervasive developmental disorders. Autism Res. 2012;5(3):160–179

4. Siniscalco, D., Kannan, S., Semprún-Hernández, N., Eshraghi, A., Brigida, A. and Antonucci, N. (2018). Stem cell therapy in autism: recent insights. Stem Cells and Cloning: Advances and Applications, Volume 11, pp.55-67.

5. Siniscalco D, Bradstreet JJ, Sych N, Antonucci N. Perspectives on the use of stem cells for autism treatment. Stem Cells Int. 2013;2013:262438

6. Song CG, Zhang YZ, Wu HN, et al. Stem cells: a promising candidate to treat neurological disorders. Neural Regen Res. 2018;13(7):1294–1304.