Spinal Cord Injury

Menurut World Health Organization (WHO), Spinal Cord Injury (SCI) merupakan kondisi medis yang kompleks dan mengganggu kehidupan. SCI terjadi karena cedera akut elemen saraf tulang belakang, termasuk sumsum tulang belakang dan cauda equina. SCI menyebabkan defisit sensorik, motorik, atau disfungsi kandung kemih sementara atau permanen (Oteir et al, 2014). Oleh karena itu, penderita SCI akan mengalami keterbatasan dalam perawatan diri, bergerak dan beraktivitas sehari-hari (Say?l?r, Erso¨z and Yalc¸?n, 2013).

Angka kejadian SCI di berbagai negara tiap tahun cukup tinggi. National Spinal Cord Injury Statistical Center (NSCISC), University of Alabama at Birmingham, USA mencatat bahwa setiap tahun terdapat 15 sampai 40 kasus SCI per satu juta populasi (sekitar 4125 sampai 11.000 kasus baru) di berbagai belahan dunia. 75% kasus SCI terjadi di Germany (Exner & Meinecke, 1997), 61% di USA (McKinley, Seel, Gadi, & Tewksbury, 1999) dan 48% kasus terjadi di Netherlands (Schönherr, Groothoff, Mulder, & Eisma, 1996). Di wilayah Asia Pasifik (Australia) terdapat 300 sampai 400 kasus baru per tahunnya. Di Singapura setiap tahunnya terdapat sekitar 23 kasus per satu juta populasi (sekitar 6325 kasus baru) (Lim & Tow, 2007). Begitu juga yang terjadi di Indonesia, kasus SCI semakin banyak terjadi tiap tahunnya (Nurhidayah, 2015).

Penyebab cedera sumsum tulang belakang bisa bersifat traumatis atau non-trauma. Cedera traumatis antara lain; pukulan atau pukulan langsung yang menyebabkan kerusakan pada sumsum tulang belakang, yang bisa karena kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh dari ketinggian, tindakan kekerasan, cedera olahraga dan rekreasi, kecelakaan industry, luka tembak, cidera traumatis. Cidera non-Traumatis yaitu cedera yang ditimbulkan pada tali pusat melalui infeksi, berbagai penyakit dan kurangnya pasokan darah. Penyebab cedera non-traumatis adalah myelitis melintang, kanker, radang sendi, osteoporosis, TBC (Neurogen, 2019).

Pengaruh yang menyebabkan variasi dampak tiap penderita Spinal Cord Injury (SCI) beragam, antara lain; usia terjadinya cedera, tingkat cedera, ketersediaan dan waktu sumber daya dan jasa, lingkungan tempat tinggal orang tersebut, fisik, sosial, ekonomi dan sikap. Dampak yang terjadi akibat SCI juga beragam, mulai dari tekanan pada belakang leher, cedera punggung intens, perubahan posisi tulang leher, kehilangan kontrol dalam berkemih, dan mati rasa pada jari kaki dan tangan. Dampak kritis lainnya bagi penderita SCI yaitu gangguan pernafasan, kelumpuhan organ gerak, gangguan berjalanan dan keseimbangan.

 Penanganan penderita Spinal Cord Injury (SCI) dilakukan dalam beberapa tahap. Pada tahap awal, tenaga medis akan fokus untuk mempertahankan kemampuan pasien untuk bernapas dan melumpuhkan leher untuk mencegah kerusakan sumsum tulang belakang lebih lanjut. Penanganan medis selanjutnya antara lain; operasi yang difokuskan untuk menghilangkan cairan atau jaringan yang menekan sumsum tulang belakang (dekompresi laminektomi), traction yang merupakan teknik untuk menstabilkan tulang belakang dan membawanya ke arah yang benar, dan pemberian obat steroid methylprednisolone (Medrol) (PubMed Health, 2012). Langkah selanjutnya dalam penanganan penderita SCI yaitu rehabilitasi fisik dan emosional (Tator, C. H., & Benzel, E. C. (Eds.), 2000).

Hingga saat ini, perawatan medis untuk mengobati penderita Spinal Cord Injury (SCI) masih terus dikembangkan. Para medis dan peneliti mencari dan mengembangkan perawatan baru, obat-obatan terbarukan yang dapat meningkatkan regenerasi sel saraf atau meningkatkan fungsi saraf yang tersisa setelah cedera sumsum tulang belakang. Nanoteknologi dan strategi pengobatan regeneratif menjanjikan pengembangan terapi baru yang akan menjangkau pasien SCI. Penelitian terbaru mengungkapkan, adanya kemajuan yang signifikan di bidang terapi berbasis sel, dengan aplikasi klinis untuk SCI, saat ini dalam fase II dari uji klinis. Stem cell/ sel punca digunakan untuk perbaikan saraf, terutama jika dikombinasikan dengan rehabilitasi atau pendekatan kombinatorial lainnya menggunakan bantuan nanoteknologi. Namun masih perlu studi lebih lanjut mengenai potensi terapi berbasis sel sehingga menjadi pengobatan yang berdampak pada perbaikan saraf untuk pengobatan para pasien SCI (Dalamagas, et al, 2018).

 

Daftar Acuan:

- Say?l?r, Erso¨z and Yalc¸?n, 2013. Comparison of urodynamic findings in patients with upper and lower cervical spinal cord injury. Spinal Cord. Vol. 51, 780–783

- Oteir A, Smith K, Jennings P, Stoelwinder J. The prehospital management of suspected spinal cord injury: an update. Prehosp Disaster Med. 2014;29:399–402. doi: 10.1017/S1049023X14000752. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

- Nurhidayah, P.N. 2015. Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan, Volume 4, Nomor 1, Mei 2015, hlm. 37–42

- PubMed Health. (2010). Spinal cord trauma. Retrieved June 27, 2012, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMHT0030151/

- Tator, C. H., & Benzel, E. C. (Eds.). (2000). Contemporary management of spinal cord injury: From impact to Rehabilitation, 2nd ed. Rolling Meadows, IL: American Association of Neurological Surgeons

- Dalamagkas. K, Tsintou. M & Seifalian, A. M. 2018. Stem cells for spinal cord injuries bearing translational potential. Neural Regen Res. 2018 Jan; 13(1): 35–42.