Alopecia

Hair loss (Alopecia) dalam bahasa kedokteran merupakan masalah yang umum terjadi dalam kasus dermatologi. Frekuensi hair loss bervariasi, namun biasanya terjadi setelah masa pubertas dan terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pada perempuan, hair loss terjadi mulai dari rentang usia 20-40 tahun. Namun, hair loss mendominasi dan bertambah parah pada wanita yang telah mengalami menopause dengan rentang usia 50-60 tahun (Rhamos et al., 2015). Menurut Sani et al. (2016) prevalensi hair loss sebesar 46,7% dari 450 koresponden subjek penelitian dengan rentang usia 20-29 tahun.

Pola hair loss pada laki-laki dan wanita cenderung berbeda. Dalam pola pria, garis rambut mengalami regresi pada daerah bitemporal dan terjadi kebotakan pada bagian vertex. Sedangkan pada pola wanita, terdapat penipisan rambut sementara garis rambut bagian frontal tetap ada. Hair loss dapat terjadi karena adanya berbagai faktor-faktor penyebab hair loss . Faktor resiko penyebab hair loss diantaranya adalah faktor keturunan penuaan, gangguan keseimbangan hormon, luka bakar, faktor lingkungan, faktor psikologi dan berbagai macam penyakit lainnya (Bak et al.,2018; Saczonek et al.,2018). Banyaknya faktor penyebab, menyebabkan alopecia sulit dicegah. Gejala alopecia diantaranya rambut rontok lebih dari 100 helai per hari, terkadang muncul rasa terbakar atau sensasi gatal di kulit kepala, kulit yang mengalami kebotakan biasanya mulus dan berwarna peach.

Jenis-jenis alopecia berdasarkan penyebabnya diantaranya alopecia androgenik, alopecia aerata, alopecia universalis dan trikotilmania. Beberapa pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengobati alopecia diantaranya dengan penggunaan obat-obatan, laser, vitamin D, meditasi dan transplantasi rambut. Namun, banyak pengobatan yang sudah ada kurang efektif dalam mengatasi alopecia. Maka dari itu, dibutuhkan alternatif pengobatan lain untuk mengatasi alopecia.

Sel punca merupakan sel yang memiliki kemampuan memperbanyak diri sendiri (Self Renewal) dan dapat berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel (Multipoten/Pluripoten). Mesenchymal Stem Cell (MSCs) dari Umbilical Cord (UC) terbukti memicu induksi anagen rambut dari fase telogen secara in vivo, mempercepat morfogenesis folikel rambut (Dong et al., 2018), memfasilitasi regenerasi folikel rambut dan pertumbuhan rambut melalui mekanisme parakrin (Dong et al., 2014), mempercepat inisiasi transisi telogen-anagen folikel rambut, meningkatkan jumlah rambut sdan meningkatkan ekspresi protein terkait dengan induksi rambut secara in vitro (Dong et al., 2018). Selain MSCs, ditemukan juga efek positif dari Conditioned Medium MSCs (CM UC-MSCs) karena MSC selama pertumbuhan dalam media kultur mengeluarkan faktor bioaktif, termasuk sitokin, faktor pertumbuhan, microRNA, proteosom, dan eksosom. CM UC-MSCs menurut beberapa penelitian baik digunakan untuk alopecia. Menurut Park et al. (2010) dapat menginduksi fase anagen pada siklus rambut. Selain itu, CM  yang diproduksi dalam kondisi hipoksia juga dapat menginduksi fase anagen lebih cepat

Informasi Lainnya

Article
What is the Potential of Stem Cells for Spondyloarthritis?
Spondyloarthritis atau Spondiloartritis merupakan kelompok penyakit inflamasi kronis yang terutama menyerang sendi pada tulang belakang ...
Article
Benefits and Potential of Stem Cells Against Kidney Disease
Ginjal merupakan salah satu organ terpenting pada manusia yang bertanggung jawab atas berbagai fungsi biologis ...
Article
Therapeutic Potential and Clinical Application of Stem Cells in Leprosy Cases
Penyakit kusta (Leprosy) merupakan infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae complex. Bakteri ini ...
Article
Fillers for Aesthetics and Skin Health: Technological Developments and the Potential of Stem Cells
  Seiring bertambahnya usia, proses penuaan menimbulkan perubahan yang berdampak pada fungsi dan struktur biologis ...
Article
Anterior Cruciate Ligament Injury and the Role of Stem Cells in Knee Recovery
Cedera ligamen anterior krusiatum (ACL) merupakan kondisi robek atau renggang pada salah satu ligamen di ...
Article
Non-Union Fractures and the Role of Stem Cells in Supporting Bone Regeneration
Fraktur non-union merupakan sebuah kondisi dimana tulang yang mengalami patah gagal menyatu atau sembuh secara ...
Scroll to Top