Terapi Sel Punca untuk Penderita GLAUKOMA

Glaukoma merupakan penyebab kebutaan kedua terbanyak setelah katarak di seluruh dunia. Penyakit ini menyerang saraf mata sehingga tidak dapat membawa informasi visual ke otak. Kondisi tersebut terutama diakibatkan oleh tekanan bola mata yang tinggi (dikenal juga dengan intraocular/IOP), biasanya disebabkan oleh terhambatnya pengeluaran cairan bola mata (humour aquous). Berbeda dengan katarak, kebutaan akibat glaukoma ini bersifat permanen atau tidak dapat diperbaiki. Berdasarkan data dari WHO 2010, diperkirakan sebanyak 3.2 juta orang mengalami kebutaan akibat glaukoma dan tahun ini meningkat menjadi 4.5 juta orang. Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 11.2 juta orang pada tahun 2020[1,2].

Penyebab dari glaukoma tidak semuanya diketahui, berdasarkan ada atau tidaknya penyebab, glaukoma dibedakan menjadi dua jenis. Jenis glaukoma yang diturunkan dan tidak diketahui penyebabnya disebut dengan glaukoma primer. Jenis glaukoma yang tidak diturunkan dan diketahui penyebabnya disebut sebagai glaukoma sekunder. Apabila dalam satu keluarga diketahui ada yang menderita glaukoma primer, maka keluarga terdekat mempunyai resiko yang besar untuk menderita glaukoma jenis ini. Glaukoma sekunder dapat disebabkan oleh banyak hal, antara lain trauma mata, peradangan, diabetes dan pendarahan dalam mata[1].

Pengobatan saat ini untuk glaukoma terdiri dari penurunan tekanan intraokular dengan obat tetes mata, prosedur laser atau operasi. Namun, berdasarkan data statistik, banyak pasien mengalami kehilangan penglihatan yang signifikan karena degenerasi sel ganglion retina (Retinal Ganglion Cells / RGCs) meskipun kemajuan dalam perawatan yang tersedia saat ini. Kebutuhan pengobatan dengan terapi terkini tersedia untuk pasien tersebut, khususnya mereka dengan stadium akhir glaukoma, di mana pemeliharaan sejumlah kecil sel ganglion retina yang hidup mungkin belum dapat diterima secara wajar oleh masyarakat (Much et al., 2008). Terapi sel punca dikembangkan di laboratorium dan diaplikasikan pada praktek klinis memberikan harapan yang menyenangkan dan realistis bagi mereka yang terkena dampak penyakit retina degeneratif termasuk glaukoma[3].

Terapi yang dapat dilakukan menggunakan sel punca ini diantaranya yaitu penggantian sel ganglion retina dengan regenerasi saraf optik dan stem cell pelindung saraf yang dimediasi. Terdapat beberapa jenis sel punca yang dapat memperbaiki sel saraf optik khususnya pada retina yaitu, embrionik stem sel, pluripoten stem sel dan Müller stem sel. Ketiga jenis sel punca tersebut telah dilaporkan dapat memperbaiki sel saraf pada retina, namun pada penggunaan embrionik stem sel manusia masih dalam kontroversi karena dianggap menyalahi kode etik, oleh karena itu didapatkanlah sel lain yaitu pluripoten stem sel (iPS). Sampai saat ini, beberapa studi telah meneliti potensi sel iPS dalam pengobatan sel punca dari penyakit degeneratif retina, meskipun baru-baru ini beberapa kemajuan telah dibuat untuk menghasilkan sel-sel turunan iPS yaitu RGC-like cell. Hasil penelitian Chen et al. (2010) menunjukkan transplantasi iPS mencit menimbulkan teratoma intraokular. Karena transplantasi iPS tersebut berpotensi membentuk pertumbuhan sel kanker maka sangat beresiko bagi penderita glaukoma[3].

Sel pengganti dengan transplantasi dari Müller stem sel yang merupakan turunan dari sel saraf retina mungkin saat ini memberikan strategi menjanjikan untuk mengembalikan fungsi visual setelah kerusakan permanen atau kerusakan sel ganglion retina dalam penyakit glaukoma. Meskipun regenerasi saraf optik itu sendiri mungkin tidak realistis dengan pengetahuan ilmiah saat ini, penelitian selanjutnya termasuk penggantian ganglion retina dan mekanisme saraf lokal dengan transplantasi stem sel mungkin memberikan harapan bahwa pengobatan tersebut dapat dilakukan pada pasien di tahun-tahun mendatang[3].

 

Reference:

  1. Kementerian Kesehatan RI. 2015. Situasi dan Analisi Glaukoma. Pusat Data dan Informasi. ISSN 2442-7659.
  2. http://www.worldglaucoma.org
  3. Jayaram H, S Becker and GA Limb. 2011. Stem Cell Based Therapies for Glaucoma. The Mystery of Glaucoma, Dr. Tomas Kubena (Ed.). ISBN: 978-953-307-567-9. InTech. Available from: http://www.intechopen.com/books/the-mystery-of-glaucoma/stem-cell-based-therapies-for-glaucoma.

Informasi Lainnya

Article
What is the Potential of Stem Cells for Spondyloarthritis?
Spondyloarthritis atau Spondiloartritis merupakan kelompok penyakit inflamasi kronis yang terutama menyerang sendi pada tulang belakang ...
Article
Benefits and Potential of Stem Cells Against Kidney Disease
Ginjal merupakan salah satu organ terpenting pada manusia yang bertanggung jawab atas berbagai fungsi biologis ...
Article
Therapeutic Potential and Clinical Application of Stem Cells in Leprosy Cases
Penyakit kusta (Leprosy) merupakan infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae complex. Bakteri ini ...
Article
Fillers for Aesthetics and Skin Health: Technological Developments and the Potential of Stem Cells
  Seiring bertambahnya usia, proses penuaan menimbulkan perubahan yang berdampak pada fungsi dan struktur biologis ...
Article
Anterior Cruciate Ligament Injury and the Role of Stem Cells in Knee Recovery
Cedera ligamen anterior krusiatum (ACL) merupakan kondisi robek atau renggang pada salah satu ligamen di ...
Article
Non-Union Fractures and the Role of Stem Cells in Supporting Bone Regeneration
Fraktur non-union merupakan sebuah kondisi dimana tulang yang mengalami patah gagal menyatu atau sembuh secara ...
Scroll to Top