Acne vulgaris atau lebih dikenal sebagai jerawat merupakan penyakit peradangan kulit kronis yang secara umum disebabkan oleh penyumbatan pada pori-pori yang kemudian menghasilkan komedo, pustul (benjolan kecil berisi cairan putih), serta nodul atau kista (benjolan keras dan meradang). Penyumbatan pada pori-pori dapat disebabkan oleh berbagai faktor yakni produksi minyak kulit berlebihan, penggunaan produk kosmetik, faktor genetik, pola makan, faktor hormonal, penumpukan sel kulit mati, serta infeksi bakteri yang dikenal sebagai Cutibacterium acnes (C. acnes) [1]. Tingkat keparahan acne vulgaris dapat ditentukan berdasarkan bentuk jerawat yang muncul serta penyebaran lokasi pertumbuhannya. Tingkatan tersebut didasarkan pada skala Pillsbury yang menyatakan bahwa jerawat dalam bentuk komedo diklasifikasikan sebagai tingkat ringan dan meningkat sampai tingkat keempat yaitu parah yang diindikasikan dengan jumlah jerawat dalam bentuk kista dan nodul yang meradang serta pertumbuhan di lokasi lain selain di wajah [2].
Penanganan dan pengobatan untuk acne vulgaris dapat berbeda tergantung dengan tingkat keparahannya. Secara umum, obat yang digunakan dapat berupa obat topikal seperti krim wajah yang mengandung zat-zat khusus atas arahan dokter, obat antibiotik, terapi hormonal pada perempuan, turunan vitamin A (isotretinoin) (isotretinoin). Berdasarkan pedoman yang dikemukakan oleh National Institute for Health and Care Excellence (NICE), jangka waktu penggunaan obat sebelumnya berkisar antara satu hingga tiga bulan [3]. Selain pengobatan umum, perkembangan terapi sel punca untuk mengobati dan menangani acne vulgaris menunjukkan hasil yang menjanjikan dan berpotensi dikembangkan sebagai alternatif terapi. Penerapan terapi sel punca seperti Mesenchymal Stem Cell (MSC) dan produk turunan sel punca (secretome), telah terbukti membantu mengurangi peradangan, mengontrol produksi minyak kulit, mempercepat proses penyembuhan kulit, serta membantu mencegah dan memperbaiki kerusakan jaringan kulit akibat bekas jerawat [4].
Sejalan dengan perkembangan terapi saat ini, ProSTEM secara aktif meneliti potensi terapi sel punca dalam mengobati dan menangani berbagai masalah kulit, seperti jerawat. Melalui penelitian dan uji klinis yang berkelanjutan, ProSTEM berkomitmen untuk menjaga standar kualitas layanan yang ketat, serta memastikan keamanan, efektivitas, dan kepatuhan penuh terhadap regulasi pemerintah demi memberikan rasa aman dan ketenangan bagi pasien.Â
Referensi:
- Vasam, M., Korutla, S., & Bohara, R. A. (2023). Acne vulgaris: A review of the pathophysiology, treatment, and recent nanotechnology based advances. Biochemistry and Biophysics Reports, 36, 101578. https://doi.org/10.1016/j.bbrep.2023.101578
- Sutaria, A. H., Masood, S., Saleh, H. M., & Schlessinger, J. (2023). Acne vulgaris. StatPearls – NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459173/
- Santer, M., Burden-Teh, E., & Ravenscroft, J. (2023). Managing acne vulgaris: an update. Drug and Therapeutics Bulletin, 62(1), 6–10. https://doi.org/10.1136/dtb.2023.000051
- Zamzam, S., Kusumaningrum, N., Prawitasari, S., Cahyani, D., & Adityani, R. (2025). A novel regenerative approach for acne vulgaris using combined umbilical cord mesenchymal stem Cell-Derived secretome and Platelet-Rich plasma: a case report. International Journal of Cell and Biomedical Science, 4(11), 359–366. https://doi.org/10.59278/cbs.v4i11.71






