Bagaimana Potensi Stem Cell untuk Lesi Pleksus Brakhialis?

Lesi pleksus brakhialis merupakan kondisi kerusakan atau robekan pada pleksus brakhialis, yaitu jaringan saraf yang menghubungkan leher dan bahu dengan sumsum tulang belakang. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh trauma seperti kecelakaan lalu lintas, jatuh, cedera olahraga, komplikasi persalinan, maupun penekanan oleh tumor [1]. Berdasarkan tingkat keparahannya, lesi pleksus brakhialis dapat dibagi menjadi tiga derajat, yaitu ringan, sedang, dan berat (avulsi). Pada derajat ringan (neuropraksia), saraf hanya mengalami tarikan ringan tanpa robekan dan umumnya dapat pulih spontan. Gejala yang muncul dapat berupa kesemutan, baal, atau sensasi seperti tersengat listrik. Pada derajat sedang (neuroma), terjadi robekan sebagian pada saraf dan tubuh membentuk jaringan parut sebagai respons penyembuhan. Jaringan parut tersebut dapat menekan saraf dan mengganggu fungsi. Kondisi ini dapat berkembang menjadi robekan total, namun akar saraf masih melekat pada sumsum tulang belakang. Pada derajat berat (avulsi), akar saraf terlepas sepenuhnya dari sumsum tulang belakang sehingga menimbulkan gangguan fungsi yang lebih serius [2].

Penanganan lesi pleksus brakhialis meliputi terapi konservatif seperti fisioterapi dan latihan fisik, serta tindakan pembedahan pada kasus dengan robekan saraf, termasuk cangkok saraf, transfer saraf, atau transfer otot [3]. Selain itu, perkembangan terapi regeneratif berbasis sel punca menunjukkan potensi yang menjanjikan dalam mendukung pemulihan fungsi saraf dan memperbaiki gejala. Pendekatan menggunakan mesenchymal stem cells (MSC) maupun produk turunannya seperti sekretom dilaporkan memberikan perbaikan fungsi motorik pada pasien, yang berdampak pada peningkatan kemampuan menjalankan aktivitas dan pekerjaan sehari-hari. Penelitian klinis juga mengevaluasi kombinasi terapi sel punca dengan tindakan transfer saraf, yang secara teoretis dapat memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan masing-masing terapi secara terpisah [4]. Meskipun demikian, penerapan terapi ini tetap memerlukan evaluasi klinis yang ketat serta persetujuan tindakan medis berdasarkan informed consent yang jelas dan komprehensif.

Kini, layanan terapi sel punca pada kasus ortopedi, khususnya kondisi lesi pleksus brakhialis sudah dapat dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (KMK) nomor HK.01.07/MENKES/1359/2024 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terapi Sel Punca di Bidang Orthopaedi dan Traumatologi.

ProSTEM hadir untuk menyediakan sel punca dan secretome yang berkualitas dan diproduksi di fasilitas yang berizin Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM dan Izin Kementerian Kesehatan. Hal tersebut menunjukkan dedikasi penuh ProSTEM dalam menerapkan standar mutu dan keamanan. Kami memastikan setiap layanan terapi yang diberikan aman, efektif, serta mematuhi seluruh regulasi medis dan ketentuan pemerintah demi keselamatan pasien. Untuk menemukan informasi lebih lanjut terkait layanan terapi sel punca pada kondisi lesi pleksus brakhialis, dapat menghubungi kontak WhatsApp pada website ini. 

Referensi:

  1. Luo, T. D., Levy, M. L., & Li, Z. (2023). Brachial plexus injuries. StatPearls – NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482305/
  2. Kaiser, R., Mencl, L., & Haninec, P. (2012). Injuries associated with serious brachial plexus involvement in polytrauma among patients requiring surgical repair. Injury, 45(1), 223–226. https://doi.org/10.1016/j.injury.2012.05.013
  3. Sumarwoto, T., Suroto, H., Mahyudin, F., Utomo, D. N., Hadinoto, S. A., Abdulhamid, M., Utomo, P., Romaniyanto, R., Prijosedjati, R. A., & Rhatomy, S. (2021). Brachial plexus injury: Recent diagnosis and management. Open Access Macedonian Journal of Medical Sciences, 9(F), 13–24. https://doi.org/10.3889/oamjms.2021.5578
  4. Widodo, W., Dilogo, I. H., Kamal, A. F., Antarianto, R. D., Wuyung, P. E., Siregar, N. C., Octaviana, F., Kekalih, A., Suroto, H., Latief, W., & Hutami, W. D. (2024). Functional outcome and histologic analysis of late onset total type brachial plexus injury treated with intercostal nerve transfer to median nerve with local umbilical cord-derived mesenchymal stem cells or secretome injection: a double-blinded, randomized control study. European Journal of Orthopaedic Surgery & Traumatology, 34(8), 4073–4082. https://doi.org/10.1007/s00590-024-04110-6

Informasi Lainnya

Artikel
Bagaimana Potensi Stem Cell Untuk Spondyloarthritis?
Spondyloarthritis atau Spondiloartritis merupakan kelompok penyakit inflamasi kronis yang terutama menyerang sendi pada tulang belakang ...
Artikel
Manfaat dan Potensi Sel Punca Terhadap Penyakit Pada Ginjal
Ginjal merupakan salah satu organ terpenting pada manusia yang bertanggung jawab atas berbagai fungsi biologis ...
Artikel
Potensi Terapeutik dan Aplikasi Klinis Sel Punca Pada Kasus Kusta
Penyakit kusta (Leprosy) merupakan infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae complex. Bakteri ini ...
Artikel
Filler Untuk Estetika dan Kesehatan Kulit: Perkembangan Teknologi dan Potensi Sel Punca
  Seiring bertambahnya usia, proses penuaan menimbulkan perubahan yang berdampak pada fungsi dan struktur biologis ...
Artikel
Cedera Ligamen Krusiatum Anterior dan Peran Stem Cell dalam Pemulihan Lutut
Cedera ligamen anterior krusiatum (ACL) merupakan kondisi robek atau renggang pada salah satu ligamen di ...
Artikel
Fraktur Non-Union dan Peran Stem Cell dalam Mendukung Regenerasi Tulang
Fraktur non-union merupakan sebuah kondisi dimana tulang yang mengalami patah gagal menyatu atau sembuh secara ...
Scroll to Top