Potensi Terapeutik dan Aplikasi Klinis Sel Punca Pada Kasus Kusta

Penyakit kusta (Leprosy) merupakan infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae complex. Bakteri ini menyerang kulit dan saraf tepi, namun pada kondisi lanjut dapat menyerang saluran pernapasan atas serta organ penglihatan. Penyakit ini umumnya ditandai dengan  munculnya lesi kulit berupa bercak hipopigmentasi (berwarna terang) atau eritematosa (kemerahan) yang disertai dengan mati rasa. 

Meskipun sering kali dikaitkan dengan stigma negatif, penyakit kusta sebenarnya tidak menular dengan mudah. Penularan biasanya membutuhkan kontak dekat dalam waktu yang lama melalui percikan cairan dari penderita. Tantangan utama dari penyakit kusta adalah risiko keterlambatan pengobatan karena jika tidak segera ditangani, kusta akan berkembang dan merusak fungsi saraf. Kerusakan saraf inilah yang dapat memicu kecacatan permanen [1,2].

Standar pengobatan yang umum digunakan untuk kasus kusta ialah  penggunaan kombinasi beberapa jenis antibiotik atau yang dikenal dengan istilah Multi-Drug Therapy (MDT). Rangkaian pengobatan ini meliputi obat-obatan seperti dapsone, rifampicin, dan clofazimine. Rangkaian pengobatan ini biasanya berlangsung selama 6 hingga 12 bulan, bergantung pada tingkat keparahan dan diagnosis dokter [3]. Meskipun demikian, pengobatan MDT memiliki keterbatasan. Antibiotik mampu membunuh bakteri penyebab kusta, namun apabila terjadi kerusakan pada saraf, rangkaian obat tersebut belum mampu  membantu memperbaiki kerusakan saraf yang terjadi. Hal inilah yang sering kali menjadi tantangan jangka panjang bagi pasien, seperti mati rasa atau kelemahan otot [3].

Menjawab keterbatasan tersebut, saat ini pengobatan terapi sel punca menjadi salah satu pendekatan yang menjanjikan dan aman dengan tingkat risiko yang rendah [4]. Sel punca dapat dikombinasikan dengan pengobatan standar kusta dengan tujuan untuk memperbaiki jaringan rusak akibat kusta melalui:

  1. Regenerasi Saraf: Melalui sekresi faktor pertumbuhan seperti NGF dan BDNF, sel punca dapat mendukung perbaikan lingkungan mikro jaringan saraf yang rusak. Selain itu, sel punca memiliki potensi untuk meningkatkan fungsi saraf yang mempengaruhi fungsi motorik akibat kusta [5].
  2. Potensi dalam perbaikan jaringan dan luka: Pengaplikasian sel punca dapat menyembuhkan luka yang muncul akibat gangguan sensorik dan sirkulasi lokal. Sel punca berperan dalam mempercepat proses penyembuhan luka dan mengurangi penyebaran infeksi [5].

Potensi terapi sel punca untuk penyembuhan penyakit kusta sudah terlihat, namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut terkait potensi penggunaannya. Saat ini ProSTEM bekerja sama dengan Departemen Kulit di Rumah Sakit Ngoerah Bali dalam membuat sebuah studi kasus untuk mengobati kusta dengan terapi sel punca.

Harapannya potensi sel punca dapat meningkatkan regenerasi jaringan kulit dan saraf yang rusak akibat kusta, serta menyembuhkan luka kronis (trophic ulcer) melalui kemampuannya memperbaiki sel.

ProSTEM hadir menyediakan sel punca yang berkualitas dan diproduksi dengan fasilitas yang berizin Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM dan Izin Kementerian Kesehatan. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut, sahabat ProSTEM dapat menghubungi kontak WhatsApp pada website ini.

 

 

Referensi:

  1. Bhandari, J., Awais, M., Robbins, B. A., & Gupta, V. (2023). Leprosy. StatPearls – NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559307/
  2. World Health Organization. (2026). Leprosy. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/leprosy
  3. Maymone, M. B., Venkatesh, S., Laughter, M., Abdat, R., Hugh, J., Dacso, M. M., Rao, P. N., Stryjewska, B. M., Dunnick, C. A., & Dellavalle, R. P. (2020). Leprosy: Treatment and management of complications. Journal of the American Academy of Dermatology, 83(1), 17–30. https://doi.org/10.1016/j.jaad.2019.10.138
  4. Tan, S. T., Aisyah, P. B., Firmansyah, Y., Nathasia, N., Budi, E., & Hendrawan, S. (2023). Effectiveness of Secretome from Human Umbilical Cord Mesenchymal Stem Cells in Gel (10% SM-hUCMSC Gel) for Chronic Wounds (Diabetic and Trophic Ulcer) – Phase 2 Clinical Trial. Journal of Multidisciplinary Healthcare, Volume 16, 1763–1777. https://doi.org/10.2147/jmdh.s408162
  5. Mukherjee, S., Ghosh, T., & Ghosh, S. (2025). Impact of stem cell therapy in leprosy Pathogenesis through Mathematical Study: An Impulsive Control based Treatment design. In Springer proceedings in mathematics & statistics (pp. 157–171). https://doi.org/10.1007/978-981-97-9194-1_12

Informasi Lainnya

Artikel
Filler Untuk Estetika dan Kesehatan Kulit: Perkembangan Teknologi dan Potensi Sel Punca
  Seiring bertambahnya usia, proses penuaan menimbulkan perubahan yang berdampak pada fungsi dan struktur biologis ...
Artikel
Cedera Ligamen Krusiatum Anterior dan Peran Stem Cell dalam Pemulihan Lutut
Cedera ligamen anterior krusiatum (ACL) merupakan kondisi robek atau renggang pada salah satu ligamen di ...
Artikel
Fraktur Non-Union dan Peran Stem Cell dalam Mendukung Regenerasi Tulang
Fraktur non-union merupakan sebuah kondisi dimana tulang yang mengalami patah gagal menyatu atau sembuh secara ...
Artikel
Lesi Osteokondral- Penyebab, Gejala, dan Potensi Stem Cell
Lesi osteokondral merupakan kondisi kerusakan pada bantalan sendi dan tulang subkondral yang berada di bawahnya, ...
Artikel
Face Contouring: Regulasi, Urgensi, dan Inovasi Stem Cell
Penataan kontur wajah merupakan prosedur medis yang bertujuan untuk memodifikasi struktur tulang, jaringan lemak, serta ...
Artikel
Terapi Stem Cell untuk Estetika dan Rekonstruksi Wajah
Dunia estetika dan rekonstruksi wajah merupakan salah satu bidang ilmu kedokteran yang terus berkembang seiring ...
Scroll to Top