Uji Klinis Stroke Iskemik

Stroke iskemik adalah kondisi dimana terdapat satu sumbatan atau lebih pada pembuluh darah di otak, sumbatan tersebut mengakibatkan kematian pada sel otak karena aliran darah tidak lancar (Chugh, 2019).

 

Sel-sel otak mengalami kematian karena tidak mendapatkan suplai oksigen akibat aliran darah yang tersumbat. Kematian sel ini dapat mengakibatkan kecacatan. Stroke iskemik adalah penyebab kematian nomor 2 di dunia, serta menyebabkan kecacatan bagi penderitanya. Di Indonesia, stroke merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak, di mana  prevalensi stroke di Indonesia adalah sebesar 12,1 per 1000 penduduk (Riskesdas, 2018).

 

Pengobatan standar stroke iskemik disesuaikan dengan keparahan dan lokasi terjadinya sumbatan pembuluh darah pada otak. Perlakuan pertama yang dilakukan adalah tindakan reperfusi atau melancarkan kembali aliran darah melalui konsumsi obat seperti R-TPA (Recombinant- Tissue Plasminogen Activator). Reperfusi bertujuan untuk menghancurkan gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah. Namun reperfusi ini memiliki keterbatasan karena hanya efektif pada stroke iskemik kurang dari 4,5 jam sehingga hanya kurang 5 % kasus yang menjadi kandidat RTPA ini (Fonarow et al, 2011).

 

Jenis terapi yang beberapa tahun akhir ini mendapat perhatian karena efektivitasnya adalah terapi sel punca (stem cell). Stroke iskemik sendiri dapat diobati dengan terapi sel punca melalui induksi pembentukan sel-sel otak baru dan juga dapat menyediakan faktor neurotropik yang akan mengurangi inflamasi/peradangan pada otak (Cunningham et al., 2018). Salah satu jenis sel punca yang dapat menjadi pilihan adalah Mesenchymal Stem Cell (MSC).

 

MSC dapat berasal dari jaringan tali pusat manusia, atau biasa disebut Umbilical Cord Mesenchymal Stem Cells (UC-MSC). UC-MSC dapat berdiferensiasi menjadi sel-sel spesifik seperti neuron (sel otak). Maka, diprediksikan bahwa penggunaan UC-MSC dapat mendukung pembentukan neuron baru untuk menggantikan neuron yang mati akibat stroke. Diharapkan bahwa neuron baru tersebut dapat mengembalikan fungsi-fungsi motorik yang hilang akibat stroke (Cunningham et al., 2018). Selain MSC, media pertumbuhan sel punca atau disebut juga sebagai Conditioned Medium (CM) juga berpotensi untuk terapi stroke iskemik karena menghasilkan molekul-molekul yang sama dengan MSC, walau efeknya tidak bertahan sepanjang MSC.

 

Saat ini, ProSTEM bersama tim peneliti dr. Muhammad Agus Aulia, SpBS sedang melaksanakan uji klinis berjudul “Induksi Neurogenesis dengan Kombinasi Conditioned Medium dan Umbilical-derived Mesenchymal Stem Cell sebagai Strategi Baru untuk Stroke Iskemik” di Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta Pusat dengan nomor surat lolos kaji etik: 23/III/KEPK/2022 diharapkan penelitian ini dapat meningkatkan pelayanan dalam bidang neurologi, terutama dalam bidang terapi stroke.

 

 

 

Daftar Pustaka:

  1. Chugh C. (2019). Acute Ischemic Stroke: Management Approach. Indian journal of critical care medicine : peer-reviewed, official publication of Indian Society of Critical Care Medicine, 23(Suppl 2), S140–S146. https://doi.org/10.5005/jp-journals-10071-23192
  2. Cunningham, C. J., Redondo-Castro, E., & Allan, S. M. (2018). The therapeutic potential of the mesenchymal stem cell secretome in ischaemic stroke. Journal of cerebral blood flow and metabolism : official journal of the International Society of Cerebral Blood Flow and Metabolism, 38(8), 1276–1292. https://doi.org/10.1177/0271678X18776802
  3. Fonarow GC, Smith EE, Saver JL, Reeves MJ, Bhatt DL, Grau-Sepulveda MV, et al. 2011. Timeliness of Tissue-Type Plasminogen Activator Therapy in Acute Ischemic Stroke: Patient Characteristics, Hospital Factors, and Outcomes Associated With Door-to-Needle Times Within 60 Minutes. Circulation. 123 (7) :750–8.
  4. Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar). (2018). Hasil Utama RISKESDAS 2018. https://kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Hasil-riskesdas-2018_1274.pdf

Untuk kriteria penelitian dan pendaftaran dapat mengakses pada link berikut :

Scroll to Top