Defek tulang kritis merupakan sebuah kondisi kerusakan pada jaringan tulang yang berukuran besar sehingga tidak dapat sembuh sendiri tanpa bantuan tindakan medis. Kondisi tulang ini dapat disebabkan oleh trauma besar seperti tembakan, infeksi tulang, penyakit bawaan seperti osteogenesis imperfecta, dan fraktur non-union atau patah tulang yang gagal menyatu kembali. Gejala yang dapat muncul akibat dari kerusakan ini meliputi gangguan kestabilan dan fungsi pada bagian badan yang rusak, nyeri kronis, dan pemendekan atau ketidaksejajaran anggota gerak, terutama apabila struktur penyangga tulang telah hilang sepenuhnya [1].
Penanganan kondisi ini memerlukan tindakan medis yang cukup invasif karena tingkat kerusakan tulang yang cukup parah dan kondisi tulang sebelumnya yang tidak kunjung sembuh. Metode pengobatan yang digunakan sebagai standar emas adalah operasi bone graft dengan menggunakan tulang pasien sendiri atau tulang donor (allograft). Namun, metode ini memiliki risiko penularan penyakit dan kegagalan penyatuan jaringan tulang [2].Â
Selain itu, terdapat beberapa metode lain yang dapat digunakan, seperti operasi dengan teknik masquelet atau teknik membran terinduksi yang menggunakan komponen semen polymethylmethacrylate (PMMA) untuk membantu pembentukan membran dan jaringan biologis sebelum area tulang yang rusak diisi dengan bone graft. Metode lain adalah operasi distraksi osteogenesis (metode Illizarov), yaitu prosedur yang memotong tulang (osteotomi) di dekat area kerusakan, lalu menggunakan alat fiksasi eksternal untuk menarik tulang dengan perlahan sehingga merangsang pembentukan tulang baru. Penanganan juga dapat menggunakan komponen biomaterial sebagai scaffold atau kerangka pendukung pertumbuhan tulang, seperti biokeramik (hydroxyapatite and tricalcium phosphate), kaca bioaktif, dan polimer hasil cetak 3D yang membantu mendukung regenerasi dan pertumbuhan jaringan tulang baru [3].
Seiring berkembangnya teknologi kesehatan, terapi sel punca mulai banyak diteliti karena memiliki potensi dalam penanganan defek tulang kritis. Kombinasi terapi menggunakan mesenchymal stem cells (MSC) dengan metode pengobatan lain seperti scaffold dan operasi Masquelet menunjukkan hasil yang baik dalam membantu pembentukan tulang, pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis), serta mempercepat penyembuhan fraktur non-union atau patah tulang yang gagal menyatu kembali [4]. Selain membantu regenerasi jaringan tulang, terapi ini juga menunjukkan potensi dalam membantu mengurangi nyeri, meningkatkan stabilitas dan fungsi anggota gerak, serta mendukung pasien untuk kembali melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa terapi regeneratif dapat membantu mempercepat proses rehabilitasi dan mendukung penyembuhan jaringan tulang yang lebih optimal setelah tindakan pengobatan standar dilakukan. Selain sel punca, pengujian klinis menggunakan olahan sel punca, yaitu secretome, pada defek tulang kritis pada tikus menunjukkan potensi yang baik dalam membantu penyembuhan kerusakan tulang, baik digunakan sendiri maupun dikombinasikan dengan metode pengobatan lain [5].Â
Kini, layanan terapi sel punca untuk kasus ortopedi, khususnya defek tulang kritis, sudah dapat dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/1359/2024 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terapi Sel Punca di Bidang Ortopedi dan Traumatologi.
ProSTEM is here to provide stem cells and secretome yang berkualitas dan diproduksi di fasilitas yang berizin Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM dan Izin Kementerian Kesehatan. Hal tersebut menunjukkan komitmen ProSTEM dalam menjaga mutu dan keamanan. Kami memastikan setiap layanan terapi yang diberikan aman, efektif, serta sesuai dengan seluruh regulasi medis dan ketentuan pemerintah demi keselamatan pasien. Untuk memperoleh informasi lebih lanjut terkait layanan terapi sel punca pada kondisi defek tulang kritis, dapat menghubungi kontak WhatsApp yang tersedia di website ini.Â
References
- Nauth, A., Schemitsch, E., Norris, B., Nollin, Z., & Watson, J. T. (2018). Critical-Size Bone Defects: Is There a Consensus for Diagnosis and Treatment?. Journal of orthopaedic trauma, 32 Suppl 1, S7–S11. https://doi.org/10.1097/BOT.0000000000001115Â
- Roddy, E., DeBaun, M. R., Daoud-Gray, A., Yang, Y. P., Gardner, M. J., & Ducy, P. (2018). Treatment of critical-sized bone defects: Clinical and tissue engineering perspectives. European Journal of Orthopaedic Surgery & Traumatology, 28(3), 351–362. https://doi.org/10.1007/s00590-017-2063-0
- Zwingenberger, B., Vater, C., Bell, R. L., Bolte, J., Mehnert, E., Brünler, R., Aibibu, D., & Zwingenberger, S. (2021). Treatment of Critical-Size Femoral Bone Defects with Chitosan Scaffolds Produced by a Novel Process from Textile Engineering. Biomedicines, 9(8), 1015. https://doi.org/10.3390/biomedicines9081015Â
- Quek, J., Vizetto-Duarte, C., Teoh, S. H., & Choo, Y. (2024). Towards Stem Cell Therapy for Critical-Sized Segmental Bone Defects: Current Trends and Challenges on The Path to Clinical Translation. Journal of Functional Biomaterials, 15 (6), 145. https://doi.org/10.3390/jfb15060145Â
- Dilogo, I. H., Fiolin, J., Canintika, A. F., Pawitan, J. A., & Luviah, E. (2022). The effect of secretome, xenogenic bone marrow-derived mesenchymal stem cells, bone morphogenetic protein-2, hydroxyapatite granule and mechanical fixation in critical-size defects of rat models. Archives of Bone and Joint Surgery, 10(1), 17–22. https://doi.org/10.22038/abjs.2021.49539.2458Â






