Keloid dan bekas luka hipertrofik merupakan jenis bekas luka abnormal yang terbentuk di permukaan kulit akibat produksi kolagen yang berlebihan selama proses penyembuhan luka. Meskipun tampak mirip secara klinis, kedua jenis luka ini memiliki sifat biologis dan karakteristik morfologi yang berbeda.Â
Keloid merupakan bekas luka menebal yang tumbuh secara agresif dan meluas melebihi batas luka asli, serta dapat memiliki kecenderungan genetik (diturunkan). Secara klinis, keloid dapat berukuran lebih besar dari luka awal dan berwarna lebih gelap, seperti coklat tua, ungu, atau merah tua mengkilap.Â
Bekas luka hipertrofik merupakan bekas luka menebal yang tumbuh terbatas di dalam batas luka asli, terasa keras, sering menimbulkan rasa gatal dan umumnya tidak memiliki kecenderungan genetik. Secara morfologi,bekas luka hipertrofik memiliki ukuran dan lebar yang relatif sama dengan luka awal, bertekstur lunak atau kenyal, serta biasanya berwarna merah muda atau merah yang secara bertahap akan memucat dan mendekati warna kulit disekitarnya seiring berjalannya waktu [1].
Kedua bekas luka ini dapat ditangani dengan berbagai metode terapi, seperti injeksi kortikosteroid intralesi, penggunaan lembar silikon, cryotherapy, terapi laser, serta tindakan pembedahan. Keloid diketahui lebih sulit ditangani dibandingkan bekas luka hipertrofik karena memiliki aktivitas biologis yang lebih tinggi dalam memproduksi kolagen serta kecenderungan resistensi terhadap proses kematian sel terprogram [2].Â
Kedua bekas luka ini dapat ditangani dengan berbagai metode terapi, seperti injeksi kortikosteroid intralesi, penggunaan lembar silikon, cryotherapy, terapi laser, serta tindakan pembedahan. Keloid diketahui lebih sulit ditangani dibandingkan bekas luka hipertrofik karena memiliki aktivitas biologis yang lebih tinggi dalam memproduksi kolagen serta kecenderungan resistensi terhadap proses kematian sel terprogram [2].Â
Dalam beberapa tahun terakhir, terapi sel punca khususnya menggunakan Mesenchymal Stem Cell (MSC) diketahui memiliki manfaat dan potensi yang unggul dalam penanganan bekas luka hipertrofik maupun keloid. Potensi dan keunggulan terapi ini berkaitan dengan kemampuan sel punca dalam menghasilkan berbagai molekul biologis yang dapat berperan dalam mengurangi proses inflamasi serta menurunkan ekspresi sitokin, seperti Transforming Growth Factor-beta 1 (TGF-β1), yang diketahui berperan penting dalam proses pembentukan keloid dan bekas luka hipertrofik [3].Â
Kini, layanan terapi sel punca pada kasus bedah plastik rekonstruksi dan estetika, khususnya dalam penanganan keloid dan bekas luka hipertrofik, telah dapat dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1200/2025 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terapi Sel dan/atau Sel Punca di Bidang Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetika.
Dengan bekal data klinis yang tersedia, ProSTEM hadir menyediakan produk sel punca dan turunannya yang diproduksi di fasilitas berizin sesuai standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta memiliki Izin dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hal ini menunjukan dedikasi ProSTEM dalam menerapkan standar mutu dan keamanan. ProSTEM memastikan setiap layanan terapi yang diberikan mengutamakan aspek keamanan, efektivitas, serta kepatuhan seluruh regulasi medis dan ketentuan pemerintah demi keselamatan pasien. Untuk menemukan informasi lebih lanjut terkait layanan terapi sel punca dan turunannya pada yang berasal dari tali pusar (umbilical cord), serta produk turunannya seperti secretome penanganan keloid dan bekas luka hipertrofik, silakan menghubungi kontak WhatsApp yang tersedia pada situs website ini.
Referensi:
- Kazemeini, S., Nadeem-Tariq, A., Hajian, P., Anil, B., Easterly, J., Sraa, K., Pokharel, S., Metellus, R., & Kazemeini, M. (2025). Hypertrophic and keloid scar management: Advances in diagnosis, perioperative care, and anesthetic modulation. Cureus, 17(7), e88810. https://doi.org/10.7759/cureus.88810
- Gauglitz GG. Management of keloids and hypertrophic scars: current and emerging options. Clin Cosmet Investig Dermatol. 2013 Apr 24;6:103-14. doi: 10.2147/CCID.S35252. PMID: 23637546; PMCID: PMC3639020.
- Salsabila, S. D. (2025). Hypertrophic scar or keloid treatment using secretome (human umbilical cord Wharton’s jelly): A literature review. Indonesia Journal of Biomedical Science, 19(1), 64–67. https://doi.org/10.15562/ijbs.v19i1.627






